clik gambar ini !!!!!!!!

clik gambar ini !!!!!!!!
tdi-nurullah.com layanan on line

web site baru di :

http://tdi-nurullah.com

Senin, 02 Februari 2009

Takdir dan usaha

Takdir dan Wirausaha

Tanya : saya seringkali membuka usaha tetapi selalu gagal. Akhirnya saya hanya bekerja pada usaha yang menurut saya aman. Apakah ini merupakan takdir? Apakah kesuksesan itu juga takdir? Apakah orang kaya dan miskin adalah takdir?

Jawab : takdir dalam bahasa agama (Islam) adalah ketetapan Allah. Jika anda gagal berusaha ataukah berhasil, keduanya merupa-kan takdir ilahi. Sehingga takdir ada yang baik dan ada yang buruk.

قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(17)

Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. QS Al Ahzab 17

Seseorang tidak mengetahui takdir apa yang akan datang kepadanya. Dikarenakan tidak me-ngetahuinya maka ia disuruh untuk berusaha mencapai cita-citanya dan memilih yang terbaik dari segala pilihan yang dipikirkanya.

1302 Diriwayatkan daripada Abdullah bin Abbas r.a katanya: Sesungguhnya Umar bin al-Khattab pergi ke Syam. Apabila sampai ke sebuah dusun yang bernama Sarghi, beliau telah dikunjungi oleh penduduk di sekitarnya, iaitu Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan para pengikutnya. Mereka mengkhabar-kan bahwa wabah (penyakit taun) telah berjangkit di Syam. Ibnu Abbas berkata setelah mendengar berita itu, Umar berkata: Cuba panggilkan para Sahabat Muhajirin yang pertama. Aku melaksanakan perintah Umar. Umar mengajak mereka berbincang dan memberita-hu kepada mereka bahwa wabah telah berjangkit di Syam. Mereka telah berbeda pendapat mengenai berita tersebut. Sebahagian di antara mereka berkata: Engkau pergi untuk suatu urusan yang besar, jadi kami tidak sependapat sekiranya engkau pulang. Sebahagian yang lain pula berkata: Engkau diikuti oleh orang ramai dan para Sahabat Rasulullah s.a.w, jadi kami tidak bersetuju apabila engkau membawa mereka menuju ke wabah ini. Umar berkata :Tinggalkanlah aku! Kemudian beliau berkata lagi: Tolong panggilkan para sahabat Ansar. Aku pun memanggil mereka. Ketika mereka diminta berbincang, mereka telah berbeda pendapat sebagaimana para sahabat Muhajirin. Umar berkata: Tinggalkanlah aku! Lalu beliau berkata lagi : Tolong panggilkan para pembesar Quraisy yang berhijrah sewaktu penaklukan dan sekarang mereka berada di sana. Aku memanggil mereka dan ternyata mereka telah sepakat kemudian berkata: Menurut kami, sebaiknya engkau bawa mereka pulang dan tidak mengajak mereka memasuki kawasan wabah ini. Lalu Umar menyeru di tengah-tengah orang ramai: Aku akan memandu tungganganku untuk pulang, pulanglah bersamaku. Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertanya: Apakah itu berarti lari dari takdir Allah? Umar menjawab: Harapnya bukan engkau yang bertanya wahai Abu Ubaidah! Memang Umar tidak suka berselisih pendapat dengan Abu Ubaidah. Lalu Umar melanjutkan : Ya, kita lari dari ketentuan (takdir) Allah untuk menuju kepada takdir Allah yang lain. Apakah pendapatmu seandai-nya engkau mempunyai seekor unta yang turun di suatu lembah yang mempunyai dua keadaan, satunya subur dan satu lagi tandus. Adakah jika engkau mengembalanya pada tempat yang subur itu bukan bererti engkau mengembalanya kerana takdir Allah? Begitu pula sebaliknya, bukankah engkau mengembalanya kerana takdir Allah juga? Lalu datanglah Abdul Rahman bin Auf yang baru saja tiba dari suatu keperluan. Beliau berkata: Sesungguhnya aku mempunyai pengetahuan mengenai masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila kamu mendengar terdapat wabah di suatu daerah, maka janganlah kamu mendatanginya. Sebaliknya, kalaulah wabah itu berjangkit di suatu daerah sedangkan kamu berada di sana maka janganlah kamu keluar melarikan diri daripadanya. Mendengar kata-kata itu Umar bin al-Khattab memuji Allah, kemudian beredar meninggalkan tempat itu. HR. Bukhari Muslim (hadis sahih).

Berdasar hadis di atas, usaha yang anda lakukan kemudian gagal merupakan takdir Allah. Namun bukan berarti anda tidak diizinkan Allah untuk mengulanginya. Boleh jadi ia merupakan peringatan keteledoran anda atau Tuhan ingin menambah wawasan serta keuletan anda. Sebab usaha itu diperlukan ketabahan dan kegigihan. Saat itulah kemenangan.

Para ulama membagi pengertian takdir ada dua yakni takdir mubran artinya yang tak dapat dirubah misalnya manusia pasti memperoleh rezki, kematian dan menghadapi surga dan neraka. Yang kedua takdir mugayyar yaitu takdir yang dapat dirubah. Berapa rezki yang akan anda peroleh, apakah anda akan masuk surga atau neraka, apakah anda ingin kaya atau miskin adalah takdir mugayyar. Artinya semua itu dapat dirubah dengan usaha dan doa. Pengertian itulah yang ada pada peristiwa hadis tentang Umar Ibnu Khattab bahwa menurut beliau, jika takdir yang menanti adalah jelek maka ia lari daripadanya menuju takdir yang baik.

Jika anda sukses mengejar takdir baik maka semua itu dari Allah (bantuan Allah). Namun jika kamu gagal maka semua itu penyebabnya adalah diri kamu sendiri.

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.QS An Nisa 79

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah.QS Al Baqarah 110

Jadi ulangilah terus usaha anda dengan gigih dan doa. Sebab cara inilah yang terbaik. Islam tidak melarang umatnya untuk kaya selama dengan jalan halal dan mau menafkahkan sebagian rezkinya untuk agama Allah. Selain gigih dan berdoa, ikutilah dengan banyak beramal soleh dan sedekah terhadap kaum fakir dan miskin. Jadilah sebagai manusia yang terbaik yaitu yang paling bermanfaat di antara segala manusia. Wallahu a`lam