
Sunat, Sunnah dan Sunan
Pimpinan Majlis Ta`lim Nurullah
Tanya : adakah perbedaan antara sunnat dengan sunnah? Kadang saya dengar sesuatu itu sunnah kadang sunat. Dan ada lagi istilah sunnan. Mohon penjelasan?
Jawab : secara makna bahasa adalah sama. Sunnatun atau sunnah adalah mufrad (kata tunggal) yang berarti jalan, tabiat dalam hidup atau jalan hidup. Sunnan adalah jamak (kata berarti banyak;plural). Bila ada orang menjebut…ini sunnah nabi saw berarti jalan pedoman berdasarkan prilaku nabi saw. Terkadang anda mendengar sunnat seperti perkataan…ini hukumnya sunat. Selanjutnya anda mendengar sunan Turmudzi, Sunnan Abu daud atau sunnan yang empat maksudnya riwayat hadis prilaku Nabi saw yang dikumpulkan oleh ahli hadis Turmuzi, Nasa`I, Daud dan Ibn Majah. Terakhir mungkin di Indonesia ada istilah sunan sembilan maksudnya prilaku riwayat hidup para wali sembilan di tanah jawa.
Adapun tentang dua istilah di muka yang sunnah dan sunat dalam bahasa fiqh (hukum Islam) memiliki konotasi yang berbeda, sbb :
Sunat dalam fiqh adalah suatu yang dianjurkan untuk mengerjakannya yang akan diberi ganjaran pahala. Setiap sunat bisa jadi didasarkan atas salah satu atau dari dua hal berikut :
1. Berdasarkan ijtihad para ulama setelah memahami suatu perbuatan dipandang baik dan memiliki hubungan erat dengan anjuran yang ada dalam al Qur`an maupun hadis nabi saw.
Misalnya : mengangkat tangan saat takbir solat di atas bahu/ pundak. Yang wajib adalah mengucapkan takbir sedang mengangkat tangan hanyalah sunat. Demikian pula mengarahkan mata pada sajadah pada saat qiyam (berdiri), meletakkan dua tangan di perut/ dada, membaca doa pada i`tidal, duduk di antara dua sujud dan tasbih pada sujud, semuanya dipandang sunat.
Para ulama syafi`iyah membagi sunat dalam dua keadaan yaitu sunat muakad dan ghairu muakad. Muakad artinya yang dipentingkan dan biasanya sangat erat hubungannya dengan prilaku nabi saw misalnya sunat rawatib sebelum dan sesudah solat fardu lima. Karena nabi saw selalu berusaha mengerjakannya. Sedangkan sunat ghairu muakad artinya kurang dipentingkan tetapi tetap sunat misalnya dua rakaat sebelum solat fardhu magrib, dua rakaat sebelum isya.
2. Berdasarkan langsung perkataan nabi atau prilaku nabi saw sendiri sebagai contoh ikutan. Misalnya hadis nabi saw menganjurkan untuk makan pada waktu sahur pada puasa, sbb:
حَدِيثُ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة
Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Hendaklah kamu bersahur kerana di dalam bersahur itu ada keberkatannya. Bukhari Muslim, Turmuzi dan Nasai, Ahmad
Kadang timbul pertanyaan, mengapa sunnah nabi saw perlu diperhatikan, bukankah sudah ada pada al Qur`an? Jawabnya karena ada perintah dalam al Qur`an, sbb :
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. QS Al Hasyar 7
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى(3)إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى(4)
dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
قل إن كنتم تحبون اللَّه فاتبعوني يحببكم اللَّه، ويغفر لكم ذنوبكم
"Katakanlah-hai Muhammad, jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah tentu mencintai engkau semua dan akan mengampuni dosa-dosamu." (ali-lmran: 31)
لقد كان لكم في رَسُول اللَّهِ أسوة حسنة لمن كان يرجو اللَّه واليوم الآخر
"Dan niscayalah di dalam peribadi Rasulullah itu merupakan ikutan- teladan - yang baik bagimu semua, juga bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir." (al-Ahzab: 21)
فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى اللَّه والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر
قال العلماء: معناه: إلى الكتاب والسنة.
"Jikalau engkau semua memperselisihkan dalam sesuatu persoalan, maka kembalikanlah itu kepada Aliah dan RasulNya, apabila engkau semua benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir." (an-Nisa': 59)
Para alim-ulama berkata: "Maksudnya itu ialah supaya dikembalikan sesuai dengan al-Kitab - al-Quran - dan as-Sunnah - al-Hadis."
من يطع الرسول فقد أطاع اللَّه
"Barangsiapa mentaati Rasul ia telah benar-benar mentaati Allah." (an-Nisa')
وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم
"Dan sesungguhnya engkau itu niscayalah memberikan petunjuk kejalan yang lurus yaitu jalan Allah.'' (asy-Syura: 52-53)
فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم
"Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu menjadi takut, supaya jangan sampai tertimpa oleh kefitnahan atau tertimpa oleh siksa yang pedih." (an-Nur: 63)
Dalam sebuah hadis nabi saw menyebutkan, sbb :
عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عنه عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «دَعُونِي ما تَرَكتُكُمْ: إِنَّما أَهْلَكَ من كَانَ قبْلكُم كَثْرةُ سُؤَالِهمْ ، وَاخْتِلافُهُمْ عَلَى أَنْبيائِهمْ، فَإِذا نَهَيْتُكُمْ عنْ شَيْءٍ فاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذا أَمَرْتُكُمْ بأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ ما اسْتَطَعْتُمْ » متفقٌ عليه
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bersabda: "Tinggalkanlah apa yang saya tinggalkan untukmu semua -maksudnya: Jangan ditanyakan apa yang tidak saya terangkan kepadamu semua, karena hanyasanya yang menyebabkan kerusakan orang-orang - ummat - yang sebelumnya itu ialah sebab banyaknya mereka bertanya-tanya - yang tidak berfaedah - lagi pula mereka suka menyalahi kepada Nabi-nabi mereka. Oleh sebab itu jikalau saya melarang padamu akan sesuatu hal, maka jauhilah itu dan jikalau saya memerintah padamu semua akan sesuatu perkara, maka lakukanlah itu sekuat usahamu." (Muttafaq 'alaih)
عَنْ أَبِي نَجِيحٍ الْعِرْباضِ بْنِ سَارِيَة رضي اللَّه عنه قال: « أُوصِيكُمْ بِتَقْوى اللَّه، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وإِنْ تَأَمَّر عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حبشيٌ ، وَأَنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيرى اخْتِلافاً كثِيرا . فَعَلَيْكُمْ بسُنَّتي وَسُنَّةِ الْخُلُفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عضُّوا عَلَيْهَا بالنَّواجِذِ ، وإِيَّاكُمْ ومُحْدثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضلالَةٌ » رواه أبو داود ، والترمذِي وقال حديث حسن صحيح
Dari Abu Najih al-'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya berwasiat kepadamu semua, hendaklah engkau semua bertaqwa kepada Allah, juga suka mendengarkan dan mentaati -pemerintahan - sekalipun yang memerintah atasmu itu seorang hambasahaya Habsyi. Karena sesungguhnya saja, barangsiapa yang masih hidup panjang di antara engkau semua itu ia akan melihat berbagai perselisihan yang banyak sekali. Maka dari itu hendaklah engkau semua menetapi sunnahku dan sunnah para Khalifah Arrasyidun yang memperoleh petunjuk - Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu 'annum; gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi taringmu - yakni pegang teguhlah itu sekuat-kuatnya. Jauhilah olehmu semua dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya segala sesuatu kebid'ahan itu adalah sesat." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Wallahu a`lamu