Tenaga Dalam Islamy (TDI) Nurullah Telp.085248240477
(Langsung bisa dan dapat dipraktekkan):Tenaga Dalam Islamy (TDI)Nurullah merupakan sistem perlindungan diri otomatis dan praktis, hanya 10 menit sudah diperoleh beragam kemampuan. sangat diminati oleh banyak kalangan karena praktis dan berdasar aqidah murni (wajib meningalkan zimat, susuk, Jin, sesaji,untalan, dll sebab mengandung kemusrikan)
Rabu, 22 Februari 2017
Masalah Sial
Selasa, 25 Desember 2012
Pahala Berkesinambungan
Selasa, 20 Maret 2012
Niat, Jamius Shahih Bukhari 1, buletin 520
Jamius Shahih Bukhari 1
Pimpinan Majlis Ta`lim Nurullah
Hadis 1
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan" HR Bukhari
Hadis ini paling banyak di bahas oleh para ulama baik dalam kitab-kitab fiqh, akhlak, keimanan. Imam empat dalam bahasan tentang niat semuanya sepakat mengambil dasar pemikiran sebagai dalil wajibnya niat dalam melakukan ibadah kepada Allah seperti solat, zakat, Puasa dan Haji maupun amal lainnya.
Mereka berbeda pendapat tentang bagaimana teknis niatnya bukan keharusan atau tidaknya sebuah niat. Mereka sepakat keharusan ada niat dalam ibadah tersebut tetapi kapan niat dilakukan, apakah diucapkan atau tidak, bagaimana ungkapan dalam hati. Sebagai contoh dalam solat. Mereka sepakat solat wajib dengan niat. Mereka sepakat niat dilakukan dalam solat adalah saat takbiratul ihram yaitu mengangkat takbir. Harus ada ta`yin karena Allah. Namun apakah ia harus dilafazkan ataukah hanya sebuah kesadaran.
Hadis ini merupakan satu-satunya yang dijadikan standar tentang niat akan suatu ibadah. Sebab tidak ditemukan bagaimana para sahabat dalam melakukan niatnya saat mereka mengerjakan solat maupun ibadah lainnya. Akhirnya para ulama menetapkan berbagai teknis. Teknis terknal dari kalangan madzhab syafi`i adalah disunatkan melafalkannya sebelum mengangkat takbir dan mengulangi dalam hati saat bertakbir. Ta`yin harus jelas tentang nama solat, rakaat dan karena Allah. Kesemuanya disengaja dikerjakan.
Niat memiliki 2 fungsi:
(1) Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.(2) Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup dua hal:
(1) Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh fuqoha’.(2) Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas. Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, dengan perincian sebagai berikut: (a). Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal. (b). Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada dua keadaan:
- Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
- Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka amal tambahannya batal.
(c). Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.
Beribadah dengan Tujuan Dunia
Pada dasarnya amal ibadah hanya diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat. Namun terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia disamping berniat untuk tujuan akhirat, dengan syarat apabila syariát menyebutkan adanya pahala dunia bagi amalan tersebut. Amal yang tidak tercampur niat untuk mendapatkan dunia memiliki pahala yang lebih sempurna dibandingkan dengan amal yang disertai niat duniawi.
Makna hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.
Bentuk-bentuk Hijrah:
1. Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
2. meninggalkan negeri bidáh menuju negeri sunnah.
3. Meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan.
Ketiga bentuk hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna hijrah.
Hadis ke 2
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Aisyah Ibu Kaum Mu'minin, bahwa Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya. Aisyah berkata: Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat. HR Bukhari
Hadis ini mengingatkan kita betapa wahyu turun tidak seperti yang kita bayangkan seperti langsung disuarakan oleh Jibril lalu nabi mencatat. (nabi tak bisa menulis). Ada banyak cara wahyu turun diantaranya dibacakan Jibril as ketika kali pertama. Kemudian yang lainnya seperti dalam hadis di atas adalah gemercing lonceng yang amat berat di dengar nabi. Nabi sendiri tak mengerti pada awalnya lalu ia mengeti. Terkadang disertai dengan pingsan dan terlihat berpeluh dikerut dahi nabi saw. Terkadang Jibril as membacakan pada nabi saw lalu beliau mengikutinya.
Uniknya nabi saw setelah peristiwa setiap kali turunnya wahyu beliau langsung hapal dan mengerti maksudnya. Beliau tidak mencatatnya tetapi langsung menghapalnya. Hal ini lantaran beliau tak bisa menulis dan membaca. Hadis ini menjadi alasan mendasar mengapa Al Quran bukanlah buatan manusia ataupun buatan nabi saw. Keberadaan beliau yang tak bisa baca tulis membuktikan beliau murni dan objektif menerima wahyu apa adanya.
Sekalipun demikian, kerap kali di masa beliau hidup masih ada yang mengatakan al Quran sebagai buatan nabi saw sehingga turun ayat yang merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. QS Al Baqarah 23
Wallahu a`lamu
Menyampaikan Hajat, Buletin 403 Di Majlis Ta`lim Nurullah
Pimpinan Majlis Ta`lim Nurullah
Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(77)
Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (al-Haj: 77)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ(215)
"Dan apa saja kebaikan yang engkau semua lakukan, maka sesungguhnya Allah itu Maha mengetahuinya." (al-Baqarah: 215)
وعن ابن عمرَ رضي اللَّهُ عنهما أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «المسلمُ أَخــو المسلم لا يَظلِمُه ولا يُسْلِمُهُ . ومَنْ كَانَ فِي حاجةِ أَخِيهِ كانَ اللَّهُ فِي حاجتِهِ، ومنْ فَرَّجَ عنْ مُسلمٍ كُرْبةً فَرَّجَ اللَّهُ عنه بها كُرْبةً من كُرَبِ يومَ القيامةِ ، ومن سَتَرَ مُسْلماً سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ الْقِيامَةِ » متفق عليه .
245. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seorang Muslim itu adalah saudaranya orang Muslim lainnya, janganlah ia menganiaya saudaranya itu, jangan pula menyerahkannya - kepada musuh. Barangsiapa memberikan pertolongan pada hajat saudaranya, maka Allah selalu memberikan pertolongan pada hajat orang itu. Dan barangsiapa melapangkan kepada seseorang Muslim akan satu kesusahannya, maka Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan dari sekian banyak kesusahan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi cela seseorang Muslim maka Allah akan menutupi celanya pada hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)
وعن أَبي هريرة رضي اللَّه عنهُ ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « من نَفَّس عن مؤمن كُرْبة منْ كُرب الدُّنْيا ، نفَّس اللَّه عنْه كُرْبة منْ كُرَب يومِ الْقِيامَةِ ، ومنْ يسَّرَ على مُعْسرٍ يسَّرَ اللَّه عليْه في الدُّنْيَا والآخِرةِ ، ومنْ سَتَر مُسْلِماً سَترهُ اللَّه فِي الدنْيا والآخرة ، واللَّه فِي عوْنِ العبْد ما كانَ العبْدُ في عوْن أَخيهِ ، ومنْ سلك طَريقاً يلْتَمسُ فيهِ عِلْماً سهَّل اللَّه لهُ به طريقاً إلى الجنَّة . وما اجْتَمَعَ قوْمٌ فِي بيْتٍ منْ بُيُوتِ اللَّه تعالَى ، يتْلُون كِتَابَ اللَّه ، ويَتَدارسُونهُ بيْنَهُمْ إلاَّ نَزَلَتْ عليهم السَّكِينةُ ، وغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ ، وحفَّتْهُمُ الملائكَةُ ، وذكَرهُمُ اللَّه فيمَنْ عنده . ومنْ بَطَّأَ به عَملُهُ لمْ يُسرعْ به نَسَبُهُ » رواه مسلم .
246. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Barangsiapa yang melapangkan suatu kesusahan dari beberapa kesusahan seseorang Mu'min di dunia, maka Allah akan melapangkan untuknya suatu kesusahan dari berbagai kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberikan kemudahan kepada seseorang yang kesukaran, maka Allah akan memberikan kemudahan padanya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi cela seseorang Muslim, maka Allah akan menutupi celanya di dunia dan di akhirat. Allah itu selalu memberikan pertolongan kepada hambaNya, selama hamba itu suka memberikan pertolongan kepada saudaranya. Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari suatu ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju kesyurga.Tiadalah sesuatu kaumitu berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah, untuk membacakan kitab Allah - al-Quran - juga mentadarusnya antara mereka itu – membaca secara bergantian, melainkan turunlah kepada mereka ketenangan hati, ditutupi oleh kerahmatan Tuhan, juga diliputi oleh para malaikat dan Allah menyebutkan mereka itu di kalangan makhluk yang ada di sisinya. Barangsiapa yang diperlambatkan oleh amalan-nya sendiri, maka ia tidak akan dipercepatkan oleh keturunan darahnya - yakni bahwa kebahagiaan itu tergantung pada amalan seseorang dan bukan karena darah ningrat atau keturunan." (Riwayat Muslim)
Simpulan :
(1) Memudahkan artinya memberi pertolongan. Maka dengan jelas dalam Hadis ini betapa utamanya memberikan pertolongan untuk menyampaikan hajat kebutuhan kaum Muslimin, baik yang berupa ilmu pengetahuan, harta, derajat, nasihat atau menunjukkannyake arah kebaikan. Juga pertolongan yang berupa tenaga atau doa yang ditujukan agar saudaranya seagama itu tercapai maksudnya.
(2) Menempuh jalan artinya, baikpun berjalan betul-betul untuk mencari ilmu itu misalnya pergi ke sekolah, pondok, pesantren dan lain-lain atau mencari jalan semacam kiasan, misalnya belajar sendiri menelaah kitab-kitab agama dan lain-lain sebagainya.
(3) Rumah Allah misalnya masjid, madrasah dan sebagainya.
(4) Orang yang suka melakukan ini (yakni berkumpul lalu belajar yang tak dimengerti atau mengajarkan yang sudah diketahui), orang tersebut akan mendapat ketenangan hati, dilimpahi rahmat Allah, dikerumuni malaikat karena gembira melihat orang yang sedemikian itu dan oleh Allah disebut-sebut akan dimasukkan dalam golongan hambaNya yang sangat taqarrub (mendekat) dan sangat taat padaNya, seperti para malaikat dan sekalian Nabi, sebab bangga melihat perbuatan hambaNya yang baik itu dan mengagungkan sebutannya. Inilah Hadis yang menunjukkan keutamaan membaca al-Quran secara bersama-sama atau tadarus.
(5) Orang yang sedikit amal kebaikannya, tentu tidak dapat mencapai tingkat kesempurnaan taqwa hanya dengan menonjol-nonjolkan keturunannya saja. Allah berfirman:
" Sesungguhnya orang yang termulia di antara engkau sekalian itu adalah orang yang paling taqwa."
Dan lagi Nabi s.a.w. bersabda:
"Datangiah padaku besok pada hari kiamat dengan amal perbuatanmu, tidak dengan keturunanmu. Sesungguhnya aku tidak akan dapat memberikan pertolongan padamu semua darisiksa Allah itu sedikitpun (dengan membanggakan keturunan-keturunan itu)."
Wallahu a`lam
Membangun dan Memakmurkan Mesjid
Pimpinan Majlis Ta`lim Nurullah
Mesjid artinya tempat bersujud. Dalam arti luas, semua permukaan bumi dapat dijadikan tempat sujud. Mesjid dalam arti sempit berarti tempat bersujud dalam ruang khusus. Inilah yang dimaksud dalam hadis di atas. Mesjid disebut pula dalam agama dengan Baitullah artinya rumah Allah.
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ(125)
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah Allah (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian tempat yang dibangun Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud". QS Al Baqarah 125
Di bawah ini ada beberapa fadilat dan derajat bagi orang yang ikut membangun mesjid, sbb :
1. Dibangunkan untuknya istana di surga. Sabda nabi saw :
حَدِيثُ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ قَوْلِ النَّاسِ فِيهِ حِينَ بَنَى مَسْجِدَ الرَّسُولِ إِنَّكُمْ قَدْ أَكْثَرْتُمْ وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ *
294 Hadis Othman bin Affan r.a katanya: Beliau pernah berkata semasa menyelesaikan permasalahan yang timbul dikalangan orang ramai ketika Masjid Rasulullah s.a.w dibina: Kamu telah berlebih-lebihan. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesiapa yang membangunkan sebuah masjid kerana Allah Taala (Bukair berkata: Kalau tidak silap aku beliau berkata: Untuk mencari keredaan Allah) maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di dalam Syurga. HR. Bukhari, Muslm,Turmuzi, Ibnu Majah dan Ahmad.
2. Amal Paling Utama
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ(96)
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.QS Ali Imran 96
Nabi Ibrahim as membangun baitullah (meskipun waktu itu tak ada kampung dan manusia yang lewat di sana). Beliau begitu mengerti betapa besar sekali pahala amal orang yang membangun baitullah. Sehingga beliau berdoa agar amal pahala membangun mesjid/ baitullah diterima Allah :
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(127)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". QS Al Baqarah 127
3. Dimuliakan Allah sebagaimana dimuliakanya mesjid
Begitu dimuliakannya mesjid itu sebagai rumah Allah sehingga Allah sendiri mengatur hukum terhusus terhadapnya. firmanNYA
يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ(31)
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesung-guhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. QS Al A`raf 31
Menurut ilmu ushul, suatu perintah adalah wujub (wajib). Kalimat khuzuu jiinatakum adalah amr (perintah) berarti wajib artinya ambillah pakaian yang baik. Ini menunjuk kepada begitu mulianya bangunan mesjid karenanya ia dikhususkan untuk beribadah dan sangat dimuliakan dan diagungkan pula orang yang ikut menyediakan bangunannya :
ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ
"Dan barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu ada-lah lebih baik baginya di sisi Rabbnya." (al-Hajj: 30).
تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ(108)
Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. At Taubah 108
4. Berjihad di Jalan Allah agar terhindar dari azab yang pedih.
Membangun mesjid berarti menyediakan fasilitas orang untuk beribadah, membersihkan dirinya dan dimulai dengan perasaan takut kepada Allah. Oleh karenanya, membangun mesjid termasuk dalam jihad sabilillah. Sementara setiap orang mukmin wajib berjihad di jalan Allah dengan hartanya jika tak dapat dengan olah dirinya agar ia terhindar dari azab pedih seperti maksud dari firman Allah, sbb :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ(10)تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(11)يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(12)
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. QS As Shaff 10-12
Dengan demikian, membang-un mesjid adalah jihad sabilillah adalah agar terhindar dari azab yang pedih.
5. Melaksanakan syiar agama Allah
ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (Al-Hajj: 32).
Mesjid adalah bangunan pertama dalam syiar Allah dan hingga sekarang menjadi pusat syiar Islam di manapun. Maka siapa yang ikut membangunnya berarti melakukan syiar agama dan bukti ketakwaan.
6. Amal Jariah; pahala yang terus menerus dan bertambah banyak.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
``Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara, yaitu : sedekah jariah (termasuk membangun Masjid), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya`` (HR. Muslim).
Dengan demikian, mengupaya-kan dalam hidup ini untuk andil dalam membangun mesjid merupakan amal paling utama. Tak punya harta lakukanlah dengan keringat.
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ(18)
Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. At Taubah 18. wallahu a`lam
في وجوب الانقياد لحكم الله تعالى
في وجوب الانقياد لحكم الله تعالى
Kewajiban Mengikuti Hukum Allah Dan Apa-apa YangDiucapkan Oleh Orang Yang Diajak KeArah Itu Dan Yang Diperintah Berbuat Kebaikan Atau Dilarang Berbuat Keburukan
Allah Ta'ala berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(65(
"Tetapi tidak, demi Tuhanmu. Mereka belum sebenarnya beriman sebelum mereka meminta keputusan kepadamu perkara-perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak menaruh keberatan dalam hatinya terhadap putusan yang engkau berikan itu dan mereka menyerah dengan penyerahan yang bulat-bulat." (an-Nisa': 65)
Allah Ta'ala berfirman pula:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(51)
"Hanyasanya ucapan kaum mu'minin, apabila mereka diseru kepada jalan Allah dan RasulNya untuk memberikan hukum di antara mereka itu iaiah mereka itu mengucapkan: "Kita semua mendengarkan dan mentaati." Mereka itu adalah orang-orang yang berbahagia." (an-Nur: 51)
Keterangan:
Setiap orang sudah pasti mengerti bahwa Islam adalah suatu agama yang sudah cukup lengkap hukum-hukumnya serta peraturan-peraturannya. Dalam segala macam persoalan Islam sudah menyediakan hukum yang wajib diterapkan untuknya itu, mulai dari hal yang sekecil-kecilnya seperti berkawan, adab pergaulan,berumah tanggadan lain-lain, juga sampai yang sebesarnya, misalnya menegakkan tertib hukum, mengatur keamanan dalam negara dan sebagainya. Dalam hal perselisihan antara orang seorang, antara golongan satu dengan lainnya, bahkan antara bangsa dengan lain bangsapun tercantum pula hukumnya.
Jadi kita sebagar penganut agama Islam berkewajiban mengamalkan hukum-hukum itu tanpa membantah samasekali, jika memang benar-benar nyata hukum itu dari Tuhan dan RasulNya dan bukan semata-mata dibuat-buat sendiri oleh manusia yang gemar pada kebid'ahan, jelasnya orang-orang yang mengada-adakan hukum dari kehendaknya sendiri
dan dikatakan bahwa itulah hukum agama dari Tuhan.
Sementara itu segala persoalan yang terjadi, maka untuk menerapkan hukumnya jangan menggunakan hukum yang selain dari Tuhan dan RasulNya. Jadi persoalan itu kita cocokkan sesuai dengan hukum yang ada dalam agama Islam. Manakala kita mengerjakan kebalikannya, tentulah salah, yaitu persoalan yang ada itu kita carikan hukumnya dalam agama yang kiranya dapat sesuai dengan kehendak atau kemauan hawa nafsu kita sendiri, atau disesuaikan dengan kemauan orang lain yang kita anggap terhormat agar mendapatkan pujian atau sekedar harta daripadanya. Oleh sebab itu jikalau hukum agama itu diibaratkan sebagai kepala atau kaki, sekiranya kita ingin membeli kopyah atau sepatu, hendaknya kopyah dan sepatu itu yang kita cocokkan dengan kepala atau kaki kita dan tidak sebaliknya, yakni kepala atau kaki yang kita cocokkan dengan kopyah atau sepatu tersebut. Kalau kekecilan, kepala dan kaki diperkecilkan dan kalau kebesaran, lalu kepala atau kaki dipukuli agar bengkak sehingga cocok dengan kopyah atau sepatu yang berukuran besar tadi. Ringkasnya dalam segala hal, jangan sampai hukum agama yang dikalahkan, sebaliknya itulah yang justeru wajib dimuliakan dan dijunjung setinggi-tingginya, sebab memang datangnya dari Tuhan Rabbul 'Alamin. Semogalah kita dapat melaksanakan yang sedemikian ini, sehingga berbahagialah hidup kita sejak di dunia sampai di akhirat nanti. Amin.
Dalam bab ini ada beberapa Hadis, di antaranya ialah Hadis Abu Hurairah yang tercantum dalam permulaan bab sebelum ini – lihat Hadis no. 156 - dan ada pula Hadis-hadis yang lainnya.
عن أَبِي هريرة رضي اللَّه عنه ، قال : لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : اشْتَدَّ ذلكَ عَلَى أَصْحابِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فأَتوْا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ثُمَّ برَكُوا عَلَى الرُّكَب فَقالُوا : أَيْ رسولَ اللَّه كُلِّفَنَا مِنَ الأَعمالِ مَا نُطِيقُ : الصَّلاَةَ وَالْجِهادَ وَالصِّيام وَالصَّدقةَ ، وَقَدَ أُنْزلتْ عليْكَ هَذِهِ الآيَةُ وَلا نُطِيقُهَا . قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «أَتُريدُونَ أَنْ تَقُولوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتابَين مِنْ قَبْلكُمْ : سَمِعْنَا وَعصينَا ؟ بَلْ قُولوا : سمِعْنا وَأَطَعْنَا غُفْرانَك رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمصِيرُ » فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَومُ ، وَذَلقَتْ بِهَا أَلْسِنتهُمْ ، أَنَزلَ اللَّه تَعَالَى في إِثْرهَا : { آمنَ الرَّسُولُ بِما أُنْزِلَ إِليْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤمِنونَ كُلٌّ آمنَ بِاللَّه وَملائِكَتِهِ وكُتبِه وَرُسُلهِ لا نُفرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلهِ وَقالوا سمعْنَا وَأَطعْنا غُفْرَانكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصيرُ } فَلَمَّا فعَلُوا ذلك نَسَخَهَا اللَّه تَعَالَى ، فَأَنْزَلَ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ : { لا يُكلِّفُ اللَّه نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبتْ ، رَبَّنَا لا تُؤاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَو أَخْطَأْنَا } قَالَ : نَعَمْ { رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا } قَالَ: نعَمْ { رَبَّنَا ولا تُحَمِّلْنَا مَالا طَاقَةَ لَنَا بِهِ } قَالَ : نَعَمْ { واعْفُ عَنَّا واغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْت مَوْلانَا فانْصُرنَا عَلَى الْقَومِ الْكَافِرينَ } قَالَ : نعَمْ . رواه مسلم
168. Dari Abu Hurairah r.a.katanya: "Ketika ayat ini turun pada Rasulullah s.a.w. artinya: Bagi Allah adalah apa-apa yang ada di dalam langit dan apa yang ada di bumi. Jikalau engkau semua terangkan apa-apa yang dalam hatimu atau jikalau engkau semua sembunyikan itu, niscayalah Allah akan memperhitungkan semuanya," sampai akhir ayat. Dikala itu, maka hal yang sedemikian tadi dirasa amat beratoleh para sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka lalu mendatangi Rasulullah s.a.w. kemudian mereka berjongkok di atas lutut mereka lalu berkata: "Ya Rasulullah, kita telah dipaksakan untuk melakukan amalan-amalan yang kita semua juga kuat melaksanakannya, yaitu shalat, puasa, jihad dan sedekah. Tetapi kini telah diturunkan kepada Tuan sebuah ayat dan kita rasanya tidak kuat melaksanakannya. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Adakah engkau semua hendak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh dua golongan ahlul kitab-kaum Nasrani dan Yahudi -yang hidup sebelummu semua ini, yaitu ucapan: "Kita mendengar tetapi kita menyalahi." Tidak boleh sedemikian itu, tetapi ucapkanlah: "Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan padaMu,ya Tuhan kita, dan kepadaMulah tempat kembali." Setelah kaum - sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. - membaca itu, lagi pula lidah-lidah mereka telah tunduk - tidak bisa bercakap sesuatu, lalu Allah Ta'ala menurunkan lagi sesudah itu ayat - yang artinya: "Rasul itu mempercayai apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, begitu pula orang-orang yang beriman. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. Mereka berkata: "Kita tidak membeda-bedakan seorangpun di antara rasul-rasul Allah itu." Mereka berkata lagi: "Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan daripadaMu, ya Tuhan kita dan kepadaMulah tempat kembali." Selanjutnya setelah mereka telah melaksanakan sebagaimana isi ayat di atas itu, lalu Allah 'Azzawajalla menurunkan lagi ayat - yang artinya: "Allah tidak melaksanakan kewajiban kepada seseorang, hanyalah sekedar kekuatannya belaka, bermanfaat untuknya apa-apa yang ia lakukan dan berbahaya pula atasnya apa-apa yang ia lakukan. Ya Tuhan kita, janganlah Engkau menghukum kita atas sesuatu yang kita lakukan karena kelupaan atau kekhilafan - yang tidak disengaja."Beliau s.a.w. bersabda: "Benar - kita telah melaksanakan." "Ya Tuhan kita, janganlah Engkau pikulkan kepada kita beban yang berat, sebagaimana yang telah Engkau pikulkan kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kita." Beliau bersabda: "Benar." "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kita sesuatu yang kita tidak kuat melaksanakannya." Beliau bersabda: "Benar." "Dan berilah maaf dan pengampunan, belas kasihanlah kita. Engkau pelindung kita, maka tolonglah kita terhadap kaum kafirin itu." Beliau bersabda: "Benar." (Ayat di atas dari surat al-Baqarah 286). (Riwayat Muslim) Wallahu a`lam.
Minggu, 09 Mei 2010
Pujian Pada Allah

Pujian Pada Allah
By. Pimpinan Majlis Ta`lim Nurullah
Memuji Allah merupa kan amalan yang telah diwariskan kepada kita sejak kehidupan pertama nabi Adam as. Bahkan amalan pertama semua makhluk yang paling awal sebelum adam as dan para Malaikat hingga sekarang. Demikian pula bahwa, misi dari tugas suci syariat (Islam) yang di bawa oleh para nabi-nabi dan rasul secara turun-temurun adalah agar semua manusia memuji Allah. Pujian kepada Allah terbentuk dari berbagai cara yang diajarkan oleh syariat Islam. Baik berupa lisan, perbuatan (solat) maupun cara berpikir untuk selalu mengingat Allah, sebutan-sebutan saat menerima musibah, syukur, heran atas sesuatu, kagum, ketakutan, saat makan dan sudah makan, saat memulai dan berhenti berjalan, berkendaraan, beribadah dlsb.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ(98)
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). QS Al Hijr 98
Sujud kepada Allah, rukuk dan seluruh tingkah laku solat adalah bentuk dan lafadz daripada memuji Allah. Bentuk inilah yang paling sempurna dalam memuji Allah. Hal ini dikarenakan ia merupakan gabungan dari seluruh makna pujian, gabungan pikiran (mengingat Allah; zikrullah), pujian, pengakuan, ampunan, pensucian, ketauhidan, perbuatan ketaatan dan ketundukan, pujian penyembahan. Bahkan pujian kepada Allah merupakan hakikat dari diadakannya kehidupan manusia.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. QS Az Zariyat 56
Memuji Allah melebihi dari sekedar mengingat Allah (zikir). Kesalahan banyak orang adalah hanya sering mengingat Allah tetapi tidak memuji Allah. Padahal memuji Allah sangat banyak disebut dalam Al Qur`an sebagai kewajiban bagi orang yang beriman. Antara lain, sbb:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ ءَايَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ(93)
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengeta-huinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan".QS An Namal 93
وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ(18)
dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur. QS AR Rum 18
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ(1)
Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.QS Saba 1
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ(55)
dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.QS Al Mukmin 55
Terkadang timbul pertanyaan orang bahwa mengapa Allah harus dipuji sementara Allah sendiri sudah terpuji. Maka jawablah adalah bahwa memuji Allah bukan hanya mengingatkan orang pada Tuhannya tetapi juga mengingat kan akan dirinya sendiri yang hina dina. Kehinaan tersebut termaktub dalam kenyataan, sbb:
1. Manusia dalam segala hal dibantu dan ditolong Allah, bahkan tak berkuasa atas kehidupan dan dirinya sendiri, kemampuan yang terbatas dan tak dapat melawan bencana yang datang pada dirinya kecuali sedikit yang ia ketahui. Bahkan bumi, langit dan segala isinya merupakan rahmat Allah kepada diri mereka tanpa sedikitpun jasa manusia. Firman Allah :
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ(22)
Dialah Yang menjadi-kan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.QS Al Baqarah 22
2. Dengan sering memuji Allah akan menghilangkan rasa sombong dan angkuh pada diri manusia. Kenyataannya manusia itu sering menjadi sombong dan lupa diri bila tidak ada yang mengingatkan. Dan pengingat yang baik bagi manusia adalah dirinya sendiri. Maka dengan memuji Allah mengingatkan dirinya untuk selalu tidak sombong. Sifat sombong adalah sifat yang sangat dimurkai Allah karena diangap orang yang tak tahu diri dan tak tahu berterima kasih.
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا(37)
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. QS Isra 37
3. Manusia juga sering lupa diri akan nikmat Tuhannya, terutama pada saat ia menerima nikmat. Ia lupa kepada Allah. Maka dengan sering memuji Allah akan mengingatkan dirinya akan pemberian Allah.
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا(83)
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. QS Isra 83
4. Manusia selalu perlu untuk menyikapi dengan benar dan reda atas segala ketetapan Allah, baik yang menyena-ngkan ataupun yg menyusahkan diri nya atau keburu-kan yang menimpanya. Dengan membiasa kan diri selalu memuji Allah maka sikap reda akan segala qodo dan qodar Allah selalu tertanam pada diri manusia.
قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً
Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. QS Al Ahzab 17
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ ءَاثِمًا أَوْ كَفُورًا(24)
Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhan-mu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. QS Insan 24
5. Pujian layak hanya ditujukan kepada Allah karena Dialah pemilik diri manusia, langit dan bumi serta apa saja.
فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا(131)
Dan maka (ketahuilah), sesungguh-nya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.QS An Nisa 131
6. Memuji Allah juga menggam-barkan kesadaran manusia akan Tuhannya yang maha kuasa atas segala sesuatu termasuk pada dirinya.
Dengan kesadaran itulah bahwa betapa pentingnya sehingga Allah mengajarkan agar manusia selalu memuji Allah. Sebab pada hakikatnya Allah tidaklah perlu dan membutuhkan pujian, karena dirinya Telah terpuji. Tetapi pujian kepada Allah akan berdampak kebaikan yang banyak pada diri manusia. Ia akan mendapatkan limpahan karunia Allah. Allah tidak berkehendak dan memerlukan pujian itu. Hal ini ditegaskan NYA dalam firmanNYA
يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ(15)
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. QS Al Fatir 15
Memuji Allah berarti berbuat kebaktian kepada Allah di samping pengakuan akan keagungan Allah. Jika itu dilakukan manusia maka perbuatan itu dipandang telah berbuat baik terhadap diri manusia itu sendiri seperti firman Allah :
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. QS Isra 7
Seperti juga pada penjelasan ayat lain, semisal seseorang hamba yang bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan Allah kepada dirinya, maka perbuatan bersyukur (berterimakasih) itu kepada Allah adalah menghasilkan kebaikan pada diri si hamba itu, seperti dijelaskan dalam firman Allah :
أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ(12)
"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepa-da Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".QS Luqman 12
Lalu bagaimanakah memuji Allah yang terbaik ucapannya menurut pandangan Agama? Jawabanya ada di Qur`an maupun dalam hadis nabi yaitu pujian ucapan subhaanallah walhamdulil-lah, laailaaha illallah wallahu akbar. Nabi Muhammad saw sendiri menyukai membaca kalimat taoyyibat tersebut seperti dalam hadis nabi saw, sbb :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
Dari Abu Hurairah r.a berkata, bersabda Rasulullah saw, hanya-sanya kalimat Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar lebih aku cintai dari pada cahaya matahari. HR. Muslim.
Betapa pentingnya cahaya matahari bagi kehidupan di alam ini, tetapi nabi saw, ada yang lebih penting dan selalu beliau butuhkan yaitu kalimat toyyibat Subhaanallah walhamdu-lillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar.
Dalam hadis lain, beliau berucap :
قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْضَلُ الْكَلَامِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Nabi saw bersabda,`yang paling utama dari suatu perkataan adalah Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar. HR Ahmad.
حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ أَفْضَلُ الْكَلَامِ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Dari Samurah Ibnu Jundip r.a berkata. Bersabda Rasulullah saw,``Sebaik-baiknya ucapan ada 4 macam yang tidak akan memudaratkan kamu dari suatu kejahatan (yang tampak) yakni Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar H.R Ibnu Majah
Seperti pula dalam perintah Al Qur`an agar orang yang beriman untuk selalu memuji Allah, sbb :
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ ءَانَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى(130)
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. QS Toha 130
Nabi saw telah meluangkan waktu beliau untuk selalu memuji Allah dalam berbagai kesempatan baik di waktu luang maupun sibuk.
Bagi orang miskin, kekalahan mereka terhadap orang kaya adalah bahwa mereka tak dapat bersedekah banyak dengan harta mereka. Maka nabi saw mengajarkan agar mereka membaca kalimat pujian tersebut untuk mengimbangi amalan orang kaya. Namun jika orang-orang kaya itu membaca juga kalimat itu maka mereka akan dikalahkan amalnya, kecuali orang yang lebih banyak membacanya, sbb :
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً *
330 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguh-nya orang-orang miskin dari golongan muhajirin telah datang menemui Rasulullah s.a.w dan berkata: Orang-orang kaya mendapat kedudukan yang tinggi dan nikmat-nikmat yang kekal. Rasulullah bertanya: Apa itu? Mereka menjawab: Mereka bersembahyang sebagaimana kami sembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak dapat bersedekah, mereka memerdekakan hamba sementara kami tidak mampu memerdekakannya. Rasulullah s.a.w bersabda: Mahukah kamu sekiranya aku ajarkan kepada kamu satu amalan yang akan dapat menyamai orang-orang yang sebelum kamu dan dapat mengatasi orang-orang yang sebelum kamu? Tiada seorang pun yang lebih baik daripada kamu melainkan mereka yang melakukan amalan sebagai-mana yang kamu lakukan itu. Mereka menjawab: Tentu saja, wahai Rasulullah! Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu bertasbih bertakbir dan bertahmid setiap kali setelah selesai dari sembahyang sebanyak tiga puluh tiga kali. HR Bukhari muslim.
Beruntunglah orang yang beriman yang selalu terjaga untuk memuji Allah. Ia merupakan warisan permata dari seluruh para nabi dan rasul bahkan para malaikat di manapun mereka berada. Perbedaan antara orang yang memuji Allah dengan orang yang lupa memuji Allah adalah bagaikan perbedaan antara orang yang mati dengan yang hidup.
اَللَّهُمَّ اَعِنّيِ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allahumma a`innii ala zikrika wasyukrika wahusni ibaadatika. Ya Allah, tolonglah daku untuk selalu mengingatMU dan bersyukur atas nikmatMU serta selalu memperbaiki ibadatku. Amin ya Robbal aalamiin.
Wallahu a`lam
Minggu, 13 Desember 2009
Buletin mingguan edisi 425

Sunat, Sunnah dan Sunan
Pimpinan Majlis Ta`lim Nurullah
Tanya : adakah perbedaan antara sunnat dengan sunnah? Kadang saya dengar sesuatu itu sunnah kadang sunat. Dan ada lagi istilah sunnan. Mohon penjelasan?
Jawab : secara makna bahasa adalah sama. Sunnatun atau sunnah adalah mufrad (kata tunggal) yang berarti jalan, tabiat dalam hidup atau jalan hidup. Sunnan adalah jamak (kata berarti banyak;plural). Bila ada orang menjebut…ini sunnah nabi saw berarti jalan pedoman berdasarkan prilaku nabi saw. Terkadang anda mendengar sunnat seperti perkataan…ini hukumnya sunat. Selanjutnya anda mendengar sunan Turmudzi, Sunnan Abu daud atau sunnan yang empat maksudnya riwayat hadis prilaku Nabi saw yang dikumpulkan oleh ahli hadis Turmuzi, Nasa`I, Daud dan Ibn Majah. Terakhir mungkin di Indonesia ada istilah sunan sembilan maksudnya prilaku riwayat hidup para wali sembilan di tanah jawa.
Adapun tentang dua istilah di muka yang sunnah dan sunat dalam bahasa fiqh (hukum Islam) memiliki konotasi yang berbeda, sbb :
Sunat dalam fiqh adalah suatu yang dianjurkan untuk mengerjakannya yang akan diberi ganjaran pahala. Setiap sunat bisa jadi didasarkan atas salah satu atau dari dua hal berikut :
1. Berdasarkan ijtihad para ulama setelah memahami suatu perbuatan dipandang baik dan memiliki hubungan erat dengan anjuran yang ada dalam al Qur`an maupun hadis nabi saw.
Misalnya : mengangkat tangan saat takbir solat di atas bahu/ pundak. Yang wajib adalah mengucapkan takbir sedang mengangkat tangan hanyalah sunat. Demikian pula mengarahkan mata pada sajadah pada saat qiyam (berdiri), meletakkan dua tangan di perut/ dada, membaca doa pada i`tidal, duduk di antara dua sujud dan tasbih pada sujud, semuanya dipandang sunat.
Para ulama syafi`iyah membagi sunat dalam dua keadaan yaitu sunat muakad dan ghairu muakad. Muakad artinya yang dipentingkan dan biasanya sangat erat hubungannya dengan prilaku nabi saw misalnya sunat rawatib sebelum dan sesudah solat fardu lima. Karena nabi saw selalu berusaha mengerjakannya. Sedangkan sunat ghairu muakad artinya kurang dipentingkan tetapi tetap sunat misalnya dua rakaat sebelum solat fardhu magrib, dua rakaat sebelum isya.
2. Berdasarkan langsung perkataan nabi atau prilaku nabi saw sendiri sebagai contoh ikutan. Misalnya hadis nabi saw menganjurkan untuk makan pada waktu sahur pada puasa, sbb:
حَدِيثُ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة
Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Hendaklah kamu bersahur kerana di dalam bersahur itu ada keberkatannya. Bukhari Muslim, Turmuzi dan Nasai, Ahmad
Kadang timbul pertanyaan, mengapa sunnah nabi saw perlu diperhatikan, bukankah sudah ada pada al Qur`an? Jawabnya karena ada perintah dalam al Qur`an, sbb :
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. QS Al Hasyar 7
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى(3)إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى(4)
dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
قل إن كنتم تحبون اللَّه فاتبعوني يحببكم اللَّه، ويغفر لكم ذنوبكم
"Katakanlah-hai Muhammad, jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah tentu mencintai engkau semua dan akan mengampuni dosa-dosamu." (ali-lmran: 31)
لقد كان لكم في رَسُول اللَّهِ أسوة حسنة لمن كان يرجو اللَّه واليوم الآخر
"Dan niscayalah di dalam peribadi Rasulullah itu merupakan ikutan- teladan - yang baik bagimu semua, juga bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir." (al-Ahzab: 21)
فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى اللَّه والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر
قال العلماء: معناه: إلى الكتاب والسنة.
"Jikalau engkau semua memperselisihkan dalam sesuatu persoalan, maka kembalikanlah itu kepada Aliah dan RasulNya, apabila engkau semua benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir." (an-Nisa': 59)
Para alim-ulama berkata: "Maksudnya itu ialah supaya dikembalikan sesuai dengan al-Kitab - al-Quran - dan as-Sunnah - al-Hadis."
من يطع الرسول فقد أطاع اللَّه
"Barangsiapa mentaati Rasul ia telah benar-benar mentaati Allah." (an-Nisa')
وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم
"Dan sesungguhnya engkau itu niscayalah memberikan petunjuk kejalan yang lurus yaitu jalan Allah.'' (asy-Syura: 52-53)
فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم
"Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu menjadi takut, supaya jangan sampai tertimpa oleh kefitnahan atau tertimpa oleh siksa yang pedih." (an-Nur: 63)
Dalam sebuah hadis nabi saw menyebutkan, sbb :
عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عنه عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «دَعُونِي ما تَرَكتُكُمْ: إِنَّما أَهْلَكَ من كَانَ قبْلكُم كَثْرةُ سُؤَالِهمْ ، وَاخْتِلافُهُمْ عَلَى أَنْبيائِهمْ، فَإِذا نَهَيْتُكُمْ عنْ شَيْءٍ فاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذا أَمَرْتُكُمْ بأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ ما اسْتَطَعْتُمْ » متفقٌ عليه
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bersabda: "Tinggalkanlah apa yang saya tinggalkan untukmu semua -maksudnya: Jangan ditanyakan apa yang tidak saya terangkan kepadamu semua, karena hanyasanya yang menyebabkan kerusakan orang-orang - ummat - yang sebelumnya itu ialah sebab banyaknya mereka bertanya-tanya - yang tidak berfaedah - lagi pula mereka suka menyalahi kepada Nabi-nabi mereka. Oleh sebab itu jikalau saya melarang padamu akan sesuatu hal, maka jauhilah itu dan jikalau saya memerintah padamu semua akan sesuatu perkara, maka lakukanlah itu sekuat usahamu." (Muttafaq 'alaih)
عَنْ أَبِي نَجِيحٍ الْعِرْباضِ بْنِ سَارِيَة رضي اللَّه عنه قال: « أُوصِيكُمْ بِتَقْوى اللَّه، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وإِنْ تَأَمَّر عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حبشيٌ ، وَأَنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيرى اخْتِلافاً كثِيرا . فَعَلَيْكُمْ بسُنَّتي وَسُنَّةِ الْخُلُفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عضُّوا عَلَيْهَا بالنَّواجِذِ ، وإِيَّاكُمْ ومُحْدثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضلالَةٌ » رواه أبو داود ، والترمذِي وقال حديث حسن صحيح
Dari Abu Najih al-'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya berwasiat kepadamu semua, hendaklah engkau semua bertaqwa kepada Allah, juga suka mendengarkan dan mentaati -pemerintahan - sekalipun yang memerintah atasmu itu seorang hambasahaya Habsyi. Karena sesungguhnya saja, barangsiapa yang masih hidup panjang di antara engkau semua itu ia akan melihat berbagai perselisihan yang banyak sekali. Maka dari itu hendaklah engkau semua menetapi sunnahku dan sunnah para Khalifah Arrasyidun yang memperoleh petunjuk - Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu 'annum; gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi taringmu - yakni pegang teguhlah itu sekuat-kuatnya. Jauhilah olehmu semua dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya segala sesuatu kebid'ahan itu adalah sesat." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Wallahu a`lamu
Jumat, 09 Oktober 2009
Makna Laa Ilaaha Illallah
MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH
Jika seseorang telah menyatakan dua kalimat syahadat (tidak ada Ilah kecuali Allah), maka wajiblah ia meyakini hal-hal berikut ini :
1. Tidak ada pencipta kecuali Allah
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (QS. 6 Al an am:102)
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
Yang demikian itu adalah Allah, Rabbmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan. (QS. 40 al mukmin :62)
2. Tidak ada yang memberi rizki kecuali Allah
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 11:6)
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu.Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan dari bumi Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (QS. 35:3)
3. Tidak ada yang memiliki kecuali Allah
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siap yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:284)
4. Tidak ada yang memberi manfaat dan mudharat kecuali Allah
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. (QS. 6:17)
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 10:107)
5. Tidak ada yang mengatur alam semesta kecuali Allah
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. 32:5)
6. Tidak ada pelindung kecuali Allah
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:257)
7. Tidak ada pembuat hukum kecuali Allah
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. (QS. 6:57) 8. Tidak ada yang memerintah dan melarang kecuali Allah
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS. 7:54)
9. Tidak ada yang ditaati kecuali Allah
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. 3:132) Katakanlah:"Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. 3:32)
10. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. 20:14)
Ringkasan makna Laa ilaaha Illallah, sbb:
1. Tidak ada pencipta kecuali Allah
2. Tidak ada yang memberi rizki kecuali Allah
3. Tidak ada yang memiliki kecuali Allah
4. Tidak ada yang memberi manfaat dan mudharat kecuali Allah
5. Tidak ada yang mengatur alam semesta kecuali Allah
6. Tidak ada pelindung kecuali Allah
7. Tidak ada pembuat hukum kecuali Allah
8. Tidak ada yang memerintah dan melarang kecuali Allah
9. Tidak ada yang ditaati kecuali Allah
10.Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah




